Jumat, 04 Mei 2012


BAB II
PEMBAHASAN

2.1.       DEFINISI

Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat, ukuran panjang, umur tulang dan keseimbangan metabolik.
 Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan ( skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Hampir semua bayi dan anak kecil pada umumnya mengikuti tahapan perkembangan yang sama.
Prinsip tumbang penentu pola tumbang setiap anak :
1.    Proses tumbang sangat bergantung pada aspek kematangan susunan syaraf pada manusia, dimana semakin sempurna atau kompleks kematangan syaraf maka semakin sempurna proses tumbang, mulai dari konsepsi hingga dewasa.
2.   Proses tumbang tiap individu adalah sama, yaitu mencapai proses kematangan meskipun proses pencapaianya tidak memiliki kecepatan yang sama antar individu.
3.    Proses tumbang memiliki pola khas yang dapat terjadi mulai dari kepala, hingga keseluruh bagian tubuh atau mmulai dari kemampuan sederhana hingga kekemampuan yang lebih kompleks hingga mencapai kesempurnaan dari tahap tumbang



2.2.       POLA TUMBANG
Merupakan peristiwa yang terjadi selama proses tumbang pada anak yang dapat mengalami percepatan maupun pengahambatan yang saling berhubungan antara satu organ dengan organ yang lain.
1.    Pola pertumbuhan fisik yang terarah : mempunya 2 prinsip yaitu chepalocaudal (kepala ke kaki) dan proximodistal (gerakan dari dekat dengan sumbu tubuh baru kedaerah yang jauh dari sumbu tubuh.)
2.   perkembangan dari umum ke khusus : pergerakan dari daerah yang sederhana ke daerah yang lebih kompleks , contoh melambaikan tangan kemudian memainkan jarinya.
3.    Pola perkembangan berlangsung dalam tahapan perkembangan yaitu berdasar atas masa pralahir, neonatus, bayi, anak, remaja.
4.   Pola perkembangan dipengaruhi oleh kematangan dan latihan ( belajar ) yaitu mendapat rangsangan dari luar untuk mencapai proses pematangan.

2.3.       CIRI TUMBANG
·                Pertumbuhan :
1.Terjadi perubahan ukuran fisik, contoh BB, TB, Lingkar Kepala, Lingkar lengan, Lingkar dada.
2.Perubahan proporsi yang terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia yang muncul mulai dari masa konsepsi hingga dewasa.
3.Hilangnya ciri ciri lama yang ada selma petumbuhan seperti kelenjar timus, lepasnya gigi susu, atau hilangnya  reflek tertentu.
4.Terdapat ciri ciri secar perlahan mengikuti proses kematangan, contohnya ada rambut di axila,phubis dan dada.

 Perkembangan
1.    Pertumbuhan yang diikuti dari perubahan fungsi contohnya perkembangan sistem reproduksi akan diikuti perubahan fungsi alat kelamin.
2.    Memiliki pola konstan dengan hukum tetap, yaitu perkembangan dapat terjadi dari daerah kepala hingga ke kaudal atau dari proksimal ke daerah distal.
3.    Perkembangan memiliki tahapan yang dimulai dari kemampuan melakukan hal sederhana menuju kemampuan melakukan hal yang sempurna.
4.    Perkembangn tiap individu memiliki kecepatan pencapaian perkembangan yang berbeda.
5.    Menentukan pertumbuhan tahap selanjutnya, tahapan perkembangan harus di lewati tahap demi tahap

2.4.       TUMBUH KEMBANG PADA BAYI SAMPAI BALITA
2.4.1.  Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Tumbang

1.             Faktor Genetik : Modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbang anak. Melalui instruksi genentik yang terkandung didalam sel telur yang telah di buahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang. Termasuk faktor genetik antara lain : berbagai faktor bawaan yang normal dan patologis, jenis kelamin, suku bangsa atau bangsa. Potensi genetik yang bermutu dapat bertinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal
2.             Faktor lingkungan : faktor penentu tercapainya atau tidak potensi bawaan . lingkungan ini merupakan lingkungan ‘bio,psikososial’. Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi ;
a.         Faktor lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu di dalam kandungan (pranatal) seperti gizi ibu saat hamil, mekanis(trauma), zat kimia yang mungkin terpapar pada ibu, endokrin ibu, radiasi, infeksi, stress, imunitas, anoksia Embrio.
b.        Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbang anak setelah lahir atau postnatal seperti
Ø  Lingkungan biologis : ras/suku bangsa, jenis kelamin, umur, gizi, perawatan kesehatan. Penyakit kronis, fungsi metabolisme dan hormon (adrenal,tiroid).
Ø  Faktor fisik :cuaca, musim, sanitasi, keadaan rumah,radiasi.
Ø  Faktor psikososial : stimulasi, motivasi belajar, kelompok sebaya, stress ,sekolah, cinta dan kasih sayang.
Ø  Faktor keluarga dan adat istiadat : pekerjaan, pendidikan ayah atau ibu, jumlah saudara, jenis kelamin, stabilitas Rumah tangga, kepribadian ayah/ ibu, agama, adat istiadat.

2.4.2.  Pertumbuhan fisik
          Pertumbuhan fisik dapat dipantau melalui :
Ø   Berat badan
Berat badan waktu lahir akan kembali pada hari kesepuluh, pada masa pra sekolah kenaikan berat badan rata rata 2 kg pertahun, kemudian pertumbuhan konstan mulai berakhir dan dimulai ( pacu tumbuh pra adolesen) dengan rata rata kenaikan berat badan 3-3,5 kg pertahun, kemudian dilanjutkan pacu tumbuh adolesen. Untuk mengetahui perkiraan BB anak bisa melalui rumus :
·     Untuk usia 3-12 bulan :
·     Usia 1-6 tahun          : umur(tahun) x 2 + 8
·     Usia 6-12 tahun        :

Ø   Tinggi Badan
Tinggi badan rata rata pada waktu lahir adalah 50 cm. Secara garis besar, tinggi badan anak dapat diperkirakan sebagai berikut :
·     1 tahun         : 1,5 x TB lahir
·     4 Tahun         : 2 x TB lahir
·     6 tahun         : 1,5 x TB setahun
·     13 tahun        : 3 x TB lahir
·     Dewasa          : 3,5 x TB lahir (2 x TB 2 tahun)
Perkiraan tinggi badan dalam cm :
·     Lahir          : 50 cm
·     1 tahun        : 75 cm
·     2- 12 tahun    : Umur (tahun) x 6 + 77

Ø   Lingkar kepala
Lingkar kepala pada waktu lahir rata rata 34 cm dan besarnya lebih besar dari lingkar dada. Pada anak umur 6 bulan, rata rata 44 cm. Umur 1 tahun , rata rata 47 cm. Umur 2 tahun Rata rata 49 cm, dan dewasa 54 cm. Jadi pertambahan lingkar kepala pada 6 bulan pertama ini adalah 10 cm atau sekitar 50 % dari pertambahan lingkar kepala dari lahir sampai dewasa terjadi pada 6 bulan pertama kehidupan. 
Ø   Jumlah Gigi
Gigi pertama pada umur 5-9 bulan, umur 1 tahun anak mempunyai 6-8 gigi susu. Selam tahun ke-2 gigi tumbuh lagi 8 biji, sehingga jumlah seluruhnya sekitar 14-16 gigi dan pada umur 2,5 tahun sudah terdapat 20 gigi susu.

Ø   Jaringan Lemak
Pertumbuhan jaringan lemak Melambat sampai anak berumur 6 tahun, anak kelihatan kurus atau langsing. Jaringan lemak akan bertambah lagi pada anak perempuan umur 8 tahun dan laki laki 10 tahun sampai awal pubertas.

Ø   Organ organ tubuh
Terdiri dari beberapa pola antara lain :
·     Pola umum : tulang panjang, otot skelet neonatus 20-25 % BB, sedangkan pada dewasa 40% BB, sistem penceraan, pernafasan, peredaran darah, dan volume darah.
·     Pola Neural : Tulang tengkorak, mata dan telinga.
·     Pola limfoid : Pertumbuhan akan mencapai maksimum sebelum adolesensi kemudian menurun hingga mencapai ukuran dewasa.
·     Pola genital : pertumbuhan lambat pada pra remaja , disusul pacu tumbuh adolesen yang pesat.

2.4.3. Perkembangan
·                USIA 0-12 BULAN
Umur 0-3 bulan:
ü   Mengangkat kepala setinggi 45 derajat
ü   Menggerakkan kepala dari kanan/kiri ke tengah
ü   Melihat dan menatap wajah Anda
ü   Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
ü   Suka tertawa keras
ü   Bereaksi terkejut terhadap suara keras
ü   Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum
ü   Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran dan kontak
Umur 3-6 bulan:
ü   Berbalik dari telungkup ke telentang
ü   Mengangkat kepala setinggi 90 derajat
ü   Mempertahankan kepala tetap tegak dan stabil
ü   Menggenggam pencil
ü   Meraih benda yang ada dalam jangkauannya
ü   Memegang tangannya sendiri
ü   Berusaha memperluas pandangan
ü   Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
ü   Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik
ü   Tersenyum ketika melihat gambar/mainan yang menarik saat bermain sendiri
Umur 6-9 bulan:
ü   Duduk (sikap tripoid-sendiri)
ü   Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan
ü   Merangkak meraih mainan atau mendekati seseorang
ü   Memindahkan benda dari tangan satu ke tangan lainnya
ü   Memungut 2 benda, masing-masing tangan pegang 1 benda pada saat yang bersamaan
ü   Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup
ü   Bersuara tanpa arti, misalnya mamama, bababa, papapa.
ü   Mencari benda/mainan yang dijatuhkan
ü   Bermain tepuk tangan/ciluk ba
ü   Bergembira dengan melempar benda
Umur 9-12 bulan
ü   Mengangkat badannya ke posisi berdiri
ü   Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi
ü   Dapat berjalan dengan dituntun
ü   Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan/gambar yang diinginkan
ü   Menggenggam erat pensil
ü   Memasukkan benda ke mulut
ü   Mengulang menirukan bunyi yang didengar
ü   Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti
ü   Mengeksprolasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja
ü   Berekasi terhadap suara perlahan/bisikan
ü   Senang diajak bermain "ciluk ba"
ü   Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal
·                UMUR 1-2 TAHUN
1.             Tidak digendong
2.             Membuka kaos kaki
3.             Mengunyah makanan
4.             Minum dengan gelas/cangkir tanpa bantuan
5.             Makan dengan sendok
6.             Membedakan bahan-bahan yang dimakan
7.             Mengupas makanan/membuka bungkus gula-gula
8.             Bermain-main dengan anak lain
9.             Mengetahui nama-nama benda yang umum
10.         Bercakap-cakap dengan kalimat pende
11.         Mencoret-coret dengan pensil atau kapur
12.         Memindah-mindahkan benda
13.         Mengatasi halangan-halanga sederhan
14.         Mengambil atau mebawa benda-benda yang dikena
15.         Berjalan-jalan dalam kamar tanpa bantua
16.         Berjalan keliling dalam rumah/pekaranga
17.          Menaiki anak tangga/trap tanpa ditolong

·                USIA 2-3 TAHUN
ü   Jalan naik tangga sendiri
ü   Dapat bermain dan menendang bola kecil
ü   Mencoret-coret pensil pada kertas
ü   Bicara dengan baik, menggunakan 2 kata
ü   Dapat menunjuk 1 atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta
ü   Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama 2 benda atau lebih
ü   Membantu memungut mainannya sendiri atau membantu mengangkat piring jika diminta
ü   Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah
ü   Melepas pakaiannya sendiri
·                USIA 3-4 TAHUN
ü   Berdiri 1 kaki 2 detik
ü   Melompat kedua kaki diangkat
ü   Mengayuh sepeda roda tiga
ü   Menggambar garis lurus
ü   Menumpuk 8 buah kubus
ü   Mengenal 2-4 warna
ü   Menyebut nama, umur, tempat
ü   Minta pergi ke WC
ü   Mengancing baju atau pakaian
ü   Mencuci tangan tanpa bantu
ü   Minta tambah ma
ü   Mengambil alat-alat makan dan minum sendiri tanpa diba
ü    Memilih permainan atau barang untuk dirinya
·                USIA 4-5 TAHUN
ü   Mencuci muka tanpa dibantu
ü   Dapat disuruh membeli sesuatu
ü   Bermain-main permainan yang bersifat lomba
ü   Menyampaikan pesan sederhana
ü   Memakai pensil atau kapur untuk menggambar
ü   Naik turun tangga tanpa dibantu
ü   Mencuci muka tanpa dibantu
ü   Dapat disuruh membeli sesuatu.
ü   Bermain-main permainan yang bersifat lomba
ü   Menyampaikan pesan sederhana
ü   Memakai pensil atau kapur untuk menggambar
ü   Naik turun tangga tanpa dibantu
·                USIA 5-6 TAHUN
ü   Mengenal angka, bisa menghitung angka 5 -10
ü   Mengenal warna-warni
ü   Mengungkapkan simpati
ü   Mengikuti aturan permainan
ü   Berpakaian sendiri tanpa dibantu
ü   Berjalan lurus
ü   Berdiri dengan 1 kaki selama 11 detik
ü   Menggambar dengan 6 bagian, menggambar orang lengkap
ü   Menangkap bola kecil dengan kedua tangan gambar
ü   Menggambar segi empat
ü   Mengerti arti lawan kata
2.5.       ASPEK ASPEK PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

1.             Gerakan Kasar ( Gk)
a.              GK pada bayi 0-1 tahun : Duduk tanpa dibantu, Merangkak,bangkit,berjalan dengan  dibimbing, menggelindingkan bola.
b.             GK Bayi 1-2 tahun: Berjalan sendiri,mengambil sesuatu dari lantai, duduk sendiri di kursi, goyang-goyang ketika mendengar musik.
c.              GK Bayi 2-3 tahun: Berlari,melompat,berjingkrak,menendang bola.
d.             GK balita 3-4 tahun: Mengendarai sepeda roda 3, melempar dan menangkap bola, lari menghindari rintangan, berjalan diatas garis.
e.              e. GK  4-5 tahun: Berjalan jinjit,naik turun tangga dengan kaki berganti-ganti, lompat kedepan

2.             Gerakan Halus ( Gh )
a.              GH pada bayi 0-1 tahun:  Menjangkau,mengenal benda,memindahkan benda, menjatuhkan benda, memungut benda dengan jari-jari  tangan.
b.             GH Bayi 1-2 tahun: Memasukkan benda,membuka-buka  lembaran, mencoret-coret, melempar-lempar, menggambar
c.              GH Bayi 2-3 tahun: Mengatur benda, membalik halaman buku, memegang alat tulis, meniru garis, membuat menara dari 9 balok kecil
d.             GH balita 3-4 tahun: Meniru bentuk lingkaran, membuat segitiga, meniru tulisan, membuat silang
e.              GH Balita 4-5 tahun: Menggunting kertas, menggambar garis silang, menggambar segi empat.

3.             Komunikasi Pasif ( Kp )
a.              KP pada bayi 0-1 tahun : Bereaksi terhadap pembicaraan orang, menengok ke sumber bunyi, mengerti perintah dan larangan, seperti tangisan dll.
b.             KP Bayi 1-2 tahun: Mengerti arti kata diatas, dibawah, menjalankan perintah sederhana, mengerti kalimat sederhana.
c.              c. KP Bayi 2-3 tahun: Menunjuk gambar, mengerti bentuk pertanyaan, senang cerita-cerita, mengerti kata larangan(tidak boleh,jangan ).
d.             d. KP balita 3-4 tahun: Mengerti konsep waktu, bisa membandingkan 2 benda, mau diajak berpura-pura.
e.              e. KP Balita 4-5 tahun: Bertanya dengan kapan, bagaimana menggabungkan kalimat, menceritakan cerita walau masih campur aduk.

4.             Komunikasi Aktif ( Ka )
a.              KA pada bayi 0-1 tahun: Meniru suara orang, mencoba menyampaikan keinginan, mengikuti benda bergerak.
b.             KA Bayi 1-2 tahun: Mengucapkan kata-kata yang mempunyai arti, menyebut nama sendiri, dapat menyatakan hak milik, menambah perbendaraan kata (50 kata).
c.              KA Bayi 2-3 tahun: Membuat kalimat dan kata, menyebutkan nama, menunjukkan kejengkelan, menggunakan kata tanya apa dan dimana.
d.             KA balita 3-4 tahun: Dapat bercerita pengalaman yang lalu, dapat berbicara dalam 3 kata, menyebutkan diri dengan kata saya.
e.              KA Balita 4-5 tahun: Bertanya dengan kapan, bagaimana menggabungkan kalimat, berbicara tentang hubungan sebab akibat, menceritakan cerita.
5.             Kecerdasan  ( Kc )
a.              KC pada bayi 0-1 tahun: Mengenal orang yang berbeda, berreaksi terhadap orang yang belum dikenalnya, menyuap kue ke mulut, memegang gelas dengan kedua tangan.
b.             KC Bayi 1-2 tahun: Meniru perkataan orang dewasa, bereaksi terhadap perkataan dan perintah, menyamakan benda, mengetahui kamu dan saya, dapat menyatakan hak milik
c.              KC Bayi 2-3 tahun: Melihat gambar-gambar, mengerti apa yang sedang dikerjakan, menyusun menara gelang, mengenal diri sendiri melalui cermin, meniru perbuatan orang dewasa.
d.             KC balita 3-4 tahun: Mengenal warna, menyusun balok, menggambar, kemampuan konsentrasi,I ngat yang telah dikerjakan, bertanya untuk mendapatkan keterangan.
e.              KC Balita 4-5 tahun: Mengucapkan kata-kata, menyebut sampai 6 warna, memasang gambar, menjelaskan gambar.

6.             Menolong Diri Sendiri ( Md )
a.              MD pada bayi 0-1 tahun: Merentangkan tangan dan kaki, menggabungkan tangan, tersenyum secara spontan, memberikan reaksi terhadap orang yang berbeda.
b.             MD Bayi 1-2 tahun: Membuka/menutup, memakai sendok meskipun masih tumpah, minum dari cangkir, menyatakan keinginan buang air.
c.              MD Bayi 2-3 tahun: Mengambil minuman, mencuci tangan, membuka baju dengan dibantu, membuka pintu.
d.             d. MD balita 3-4 tahun: Dapat menuang air, memasang kancing dan membuka, membuang ingus, mencuci tangan.
e.              MD Balita 4-5 tahun: Memotong makanan dengan pisau, mengikat tali sepatu.


7.             Tingkah Laku Sosial ( Ts )
a.              TS pada bayi 0-1 tahun: Menaruh perhatian apabila namanya disebut, meniru perbuatan orang lain yang sederhana.
b.             TS Bayi 1-2 tahun: Mengenal diri sendiri dikaca, bermain sendiri, meniru tingkah laku orang dewasa dalam bermain, membantu menyimpan benda, menyebut diri dengan nama.
c.              TS Bayi 2-3 tahun: Bermain dengan teman, membela barangnya sendiri, ikut dalam kegiatan kelompok, bisa membedakan jenis kelamin, mengetahui jenis kelamin laki-laki dan perempuan.
d.             TS balita 3-4 tahun: Berinteraksi terhadap teman bermain, mulai bermain drama.
e.              TS Balita 4-5 tahun: Bermain dramasudah mendekati kenyataan, bermain, berinteraksi dengan anak lain, menunjukkan perhatian atas perbedaan jenis kelamin.
Demikianlah aspek-aspek yang harus anda kenali dalam tahap tumbuh kembang anak, bayi dan balita anda. Dengan mengenali dan mengetahui tanda-tanda perkembangan anak anda, anda dapat memberikan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan usia dan kemampuannya.






DAFTAR PUSTAKA

1.             Markum, A.H. (1991). Buku Ajar Anak. Jilid I, Jakarta : Fakultas Kedokteran  Universitas Indonesia.
2.             Soetjingsih. (1995). Tumbuh Kembang Anak, jakarta : EGC
3.             Suherman ( 1999 ). Buku Saku Perkembangan Anak. Jakarta : EGC
4.             Alimul Hidayat, Aziz. (2008). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Salemba Medika

Selasa, 03 April 2012

JAMPERSAL

1.1.       LATAR BELAKANG
Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator kesejahteraan suatu negara, sedangkan di Indonesia AKI dan AKB masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup, AKB 34 per 1000 kelahiran hidup, Angka Kematian Neonatus (AKN) 19 per 1000 Kelahiran hidup. Berdasarkan kesepakatan global (Millenium Develoment Goals/MDG’s 2000) pada tahun 2015, diharapkan angka kematian ibu menurun dari 228 pada tahun 2007 menjadi 102 per 100.000 KH dan angka kematian bayi menurun dari 34 pada tahun 2007 menjadi 23 per1000 KH.

1.2.       RUMUSAN MASALAH
1.             Apa yang di maksud dengan Jampersal ?
2.             Apakah yang menjadi landasan berdirinya Jampersal ?
3.             Siapakah sasaran program Jampersal ?
4.             Bagaimanakah bentuk pelayanan Jampersal ?
5.             Apa sajakah paket manfaat Jampersal ?
6.             Bagaimanakah Jjampersal bagi bidan ?

1.3.       TUJUAN
1.             Mengetahui mengenai Jampersal .
2.             Mengetahui landasan berdirinya Jampersal.
3.             Mengetahui sasaran dari program Jampersal.
4.             Mengetahui bentuk pelayanan yang diberikan oleh Jampersal.
5.             Mengetahui manfaat dari diadakanya program Jampersal.
6.             Mengetahui bagaimana sikap dan peran serta bidan dalam program Jampersal.

1.1.       PENGERTIAN
Untuk mempercepat pencapaian millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 khususnya menurunkan angka kematian ibu dan bayi, tahun 2011 Kementrian Kesehatan meluncurkan program Jaminan Persalinan ( jampersal) untukn kemudahan pembiayaan agar mendapat jaminan atas pelayanan kebidanan yang sehat. Tujuannya
·           Meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan
·           Meningkatkan cakupan pelayanan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan.
·           Meningkatkan cakupan pelayanan KB pasca persalinan
·           Meningkatkan cakupan penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, dan Bayi baaru lahir
·           Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif, transparan, dan akuntabel.
Jaminan Persalinan Adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB paska persalinan dan pelayanan bayi baru lahir.

1.2.       LANDASAN BERDIRINYA JAMPERSAL
Landasan penyelenggaraan jampersal adalah dimulai dengan  Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor TU/Menkes/391/II/2011 tentang Jaminan Persalinan (JAMPERSAL), kemudian tanggal 27 Desember 2011, Menteri Kesehatan telah menandatangani Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Secara umum ketentuan dan skema Jampersal pada tahun 2012 tidak jauh berbeda dengan tahun 2011. Beberapa hal yang menjadi catatan pada pelaksanaan Jampersal tahun 2011 menjadi perhatian dan telah diupayakan untuk dilakukan pembenahan. Terdapat beberapa pembenahan pada skema Jampersal tahun 2012 ini, di antaranya:

Minggu, 01 April 2012

STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN

STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN


Standar Pelayanan Kebidanan meliputi 24 standar , yang dikelompokan menjadi 5 bagian besar – yaitu : 
1. Standar Pelayanan Umum (2 standar) 
2. Standar Pelayanan Antenatal (6 standar) 
3. Standar Pelayanan Persalinan (4 standar) 
4. Standar Pelayanan Nifas (3 standar) 
5. Standar Penanganan Kegawatdaruratan Obstetri-neonatal (9 standar) 

DUA  STANDAR PELAYANAN UMUM


STANDAR 1. Persiapan Untuk Kehidupan Keluarga Sehat 
Bidan memberikan penyuluhan dan nasehat kepada perorangan, keluarga dan masyarakat terhadap segalan hal yang berkaitan dengan kehamilan, termasuk penyuluhan kesehatan umum (gizi, KB, kesiapan dalam menghadapai kehamilan dan menjadi calon orang tua, persalinan dan nifas). 


Tujuannya adalah memberikan penyuluhan kesehatan yang tepat untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat dan terencana serta menjadi orang yang bertanggungjawab. 


Dan hasil yang diharapkan dari penerapan standar 1 adalah masyarakat dan perorangan dapat ikut serta dalam upaya mencapai kehamilan yang sehat. Ibu,keluarga dan masyarakat meningkat pengetahuannya tentang fungsi alat-alat reproduksi dan bahaya kehamilan pada usia muda.Tanda-tanda bahaya kehamilan diketahui oleh masyarakat dan ibu.

STANDAR 2. Pencatatan Dan Pelaporan 
Bidan melakukan pencatatan dan pelaporan semu kegiatan yang dilakukannya , yaitu registrasi semua ibu hamil diwilayah kerja, rincian pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil/bersalin/nifas dan bayi baru lahir, semua kunjungan rumah dan penyuluhan kepada masyarakat. Disamping itu, bidan hendaknya mengikut sertakan kader untuk mencatat semua ibu hamil dan meninjau upaya masyarakat yang berkaitan dengan ibu dan bayi baru lahir . Bidan meninjau secara teratur catatan tersebut untuk menilai kinerja dan penyusunan rencana kegiatan untuk meningkatkan pelayanannya. 

Tujuan dari standar 2 ini yaitu mengumpulkan, menggunakan dan mempelajari data untuk pelaksanaan penyuluhan , kesinambungan pelayanan dan penilaian kerja. 

Hal-hal yang dapat dilakukan bidan untuk dapat melakukan pencatatan dan pelaporan yang maksimal adalah sebagai berikut : 

  1. Bidan harus bekerjasama dengan kader dan pamong setempat agar semua ibu hamil dapat tercatat. 
  2. Memberikan ibu hamil KMS atau buku KIA untuk dibawa pulang . Dan memberitahu ibu agar membawa buku tersebut setiap pemeriksaan. 
  3. Memastikan setiap persalinan , nifas, dan kelahiran bayi tercatat pada patograf. 
  4. Melakukan pemantauan buku pencatatan secara berkala .
  5. Dll. 

Hasil yang diharapkan dari dilakukannya standar ini yaitu terlaksananya pencatatatn dan pelaporan yang baik. Tersedia data untuk audit dan pengembangan diri, meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam kehamilan , kelahiran bayi dan pelayanan kebidanan.

ENAM STANDAR PELAYANAN ANTENATAL

STANDAR 3. Identifikasi Ibu Hamil
Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan motifasi ibu , suami dan anggota keluarganya agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur. 

Adapun tujuan yang diharapkan dari penerapan standar ini adalah mengenali dan memotifasi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya.  Kegiatan yang dapat dilakukan bidan untuk mengidentifikasi ibu hamil contoh nya sebagai berikut : 

  • Bidan melakukan kunjungan rumah dan penyuluhan secara teratur. 
  • Bersama kader bidan memotifasi ibu hamil. 
  • Lakukan komunikasi dua arah dengan masyarakat untuk membahas manfaat pemeriksaan kehamilan. 
  • Dll.


Hasil yang diharapkan dari standar ini adalah ibu dapat memahami tanda dan gejala kehamilan. Ibu , suami, anggota masyarakat menyadari manfaat pemeriksaan kehamilan secara dini dan teratur.meningkatkan cakupan ibu hamil yang memeriksakan diri sebelum kehamilan 16 minggu. 

STANDAR 4. Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal 
Bidan hendaknya paling sedikit memberikan 4 kali pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal.bidan juga harus bisa mengenali kehamilan dengan risti/kelainan , khususnya anemia , kurang gizi , hipertensi , PMS/infeksi HIV; memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh puskesmas. 

Tujuan yang diharapkan dari standar ini adalah bidan mampu memberikan pelayanan antenatal berkualitas dan deteksi dini komplikasi kehamilan. Adapun hasil yang diharapkan yaitu ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4 kali selama kehamilan. Meningkatnya pemanfaatan jasa bidan oleh masyarakat. Deteksi dini dan penanganan komplikasi kehamilan. Ibu hamil, suami, keluarga dan masyarakat mengenali tanda bahaya kehamilan dan tahu apa yang harus dilakukan. Mengurus transportasi rujukan ,jika sewaktu-waktu dibutuhkan. 

STANDAR 5. Palpasi abdominal 
Bidan harus melakukan pemeriksaan abdomen secara seksama dan melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan. Bila umur kehamilan bertambah , memeriksa posisi, bagian terendah, masuknya kepala janin kedalam rongga panggul, untuk mencari kelainan dan untuk merujuk tepat waktu. Tujuan dari dilakukannya standar ini adalah memperkirakan usia kehamilan, pemantauan pertumbuhan janin, penentuan letak, posisi dibagian bawah janin. 

Hasil yang diharapkan yaitu bidan dapat memperkirakan usia kehamilan , diagnosis dini kelainan letak, dan merujuk sesuai kebutuhan. Mendiagnosisi dini kehamilan ganda dan kelainan, serta merujuk sesuai dengan kebutuhan. 

STANDAR 6. Pengelolaan Anemia pada Kehamilan 
Bidan melakukan tindakan pencegahan anemia , penemuan , penanganan dan rujukan semua kasusu anemia pada kehamialan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tujuan dari standar ini adalah bidan mampu menemukan anemia pada kehamilan secara dini, melakukan tindak lanjut yang memadai untuk mengatasi anemia sebelum persalinan berlangsung. 

Tindakan yang bisa dilakukan bidan contohnya , memeriksakan kadar Hb semua ibu hamil pada kunnjungan pertama dan minggu ke 28. Memberikan tablet Fe pada semua ibu hamil sedikitnya 1 tablet selama 90 hari berturut-turut . beripenyuluhan gizi dan pentingnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi, dll. Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan standar ini yaitu jika ada ibu hamil dengan anemia berat dapat segera dirujuk, penurunan jumlah ibu melahirkan dengan anemia, penurunana jumlah bayi baru lahir dengan anemia/BBLR. 

STANDAR 7. Pengelolaan Dini Hipertensi Pada Kehamilan 
Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenali tanda gejala preeklamsia lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat dan merujuknnya. Tujuan dari dilakukannya standar ini yaitu bidan dapat mengenali dan menemukan secaea dini hipertensi pada kehamilan dan melakukan tindakan yang diperlukan. Adapun tindakan yang dapat dilakukan bidan yaitu rutin memeriksa tekanan darah ibu dan mencatatnya. Jika terdapat tekanan darah diatas 140/90 mmHg lakukan tindakan yang diperlukan. 

Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan standar ini adalah ibu hamil dengan tanda preeklamsia mendapat perawatan yang memadai dan tepat waktu. Penurunan angka kesakitan dan kematian akibat eklamsia. 

STANDAR 8 : Persiapan Persalinan 
Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami atau keluarga pada trimester III memastikan bahwa persiapan persalinan bersih dan aman dan suasana menyenangkan akan direncanakan dengan baik, disamping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat. Bidan mengusahakan untuk melakukan kunjungan ke setiap rumah ibu hamil untuk hal ini. 

Tujuan dari dilakukannya standar ini adalah untuk memastikan bahwa persalinan direncanakan dalam lingkungan yang aman  dan memadai dengan pertolongan bidan terampil. Hasil yang diharapkan adalah ibu hamil, suami dan keluarga tergerak untuk merencanakan persalinan yang bersih dan aman. Persalinan direncanakan di tempat yang aman dan memadai dengan pertolongan bidan terampil. Adanya persiapan sarana transportasi untuk merujuk ibu bersalin,jika perlu. Rujukan tepat waktu telah dipersiapkan bila diperkirakan. 
EMPAT STANDAR PELAYANAN PERSALINAN 

STANDAR 9. Asuhan Persalinan Kala Satu 
Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai , dengan memperhatikan kebutuhan ibu, selama proses persalinan berlangsung. Bidan juga melakuakan pertolongan proses persalinan dan kelahiran yang bersih dan aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. Disamping itu ibu diijinkan memilih orang yang akan mendampinginya selam proses persalinan dan kelahiran. 

Tujuan dari dilakukannya standar ini yaitu untuk memberikan pelayanan kebidanan yang memadai dalam mendukung pertolongan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu bayi. Hasil yang diharapkan adalah ibu berssalin mendapatkan pertolongan yang aman dan memadai. Meningkatnya cakupan persalinan dan komplikassi lain yang ditangani oleh tenaga kesehatan. Berkurangnya kematian/kesakitan ibu bayi akibat partus lama. 

STANDAR 10. Persalinan Kala Dua Yang Aman 
Bidan melakukan pertolongan persalinan bayi dan plasenta yang bersih dan aman, dengan sikap sopan dan penghargaann terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat . disamping itu ibu diijinkan untuk memilih siapa yang akan mendampinginya saat persalinan. 

Tujuan dari diterapkannya standar ini yaitu memastikan persalinan yang bersih dan aman bagi ibu dan bayi. Hasil yang diharapkan yaitu persalinan dapat berlangsung bersih dan aman. Menigkatnya kepercayaan masyarakat kepada bidan. Meningkatnya jumlah persalinan yang ditolong oleh bidan. Menurunnya angka sepsis puerperalis. 

STANDAR 11. Penatalkasanaan Aktif Persalinan Kala Tiga  
Secara aktif bidan melakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga. Tujuan dilaksanakan nya standar ini yaitu membantu secara aktif pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap untuk mengurangi kejadian perdarahan pasca persalinan kala tiga, mencegah terjadinya atonia uteri dan retesio plasenta. 

Adapaun hasil yang diharapkan yaitu menurunkan terjadinya perdarahan yang hilang pada persalinan kala tiga. Menurunkan terjadinya atonia uteri, menurunkan terjadinya retensio plasenta , memperpendek waktu persalinan kala tiga, da menurunkan perdarahan post partum akibat salah penanganan pada kala tiga. 

STANDAR 12. Penanganan Kala Dua Dengan Gawat Janin Melalui Episiotomi 
Bidan mengenali secra tepat tanda-tanda gawat janin pada kala dua, dan segera melakukan episiotomy dengan aman untuk mmemperlancar persalinan, diikiuti dengan penjahitan perineum. Tujuan dilakukannya standar ini adalah mempercepat persalinan dengan melakukan episiotomy jika ada tanda-tanda gawat janin pada saat kepala janin meregangkan perineum. Hasil yang diharapkan yaitu penurunan kejadian asfiksia neonnaturum berat. Penurunan kejadian lahir mati pada kala dua . 

TIGA STANDAR PELAYANAN NIFAS 

STANDAR 13. Perawatan Bayi Baru Lahir 
Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan spontan, mencegah asfiksia, menemukan kelainan , dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermi dan mencegah hipoglikemia dan infeksi. Tujuan nya adalah menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya pernafasan serta mencegah hipotermi, hipoglikemi dan infeksi. 

Dan hasil yang diharapkan adalah bayi baru lahir menemukan perawatan dengan segera dan tepat. Bayi baru lahir mendapatkan perawatan yang tepat untuk dapat memulai pernafasan dengan baik. 

STANDAR 14. Penanganan pada dua jam pertama setelah persalinan 
Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi paling sedikit selama 2 jam stelah persalinan, serta melakukan tindakan yang diperlukan. Disamping itu, bidan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang mempercepat pulihnya kesehatan ibu, dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI. 

Tujuan nya adalah mempromosikan perawatan ibu dan bayi yang bersih dan aman selama persalinan kala empat untuk memulihkan kesehatan ibu dan bayi. Meningkatan asuhan saying ibu dan sayang bayi. Memulai pemberian ASI dalam waktu 1 jam pertama setelah persalinan dan mendukung terjadinya ikatan batin antara ibu dan bayinya. 

STANDAR 15. Pelayanan Bagi Ibu dan Bayi Pada Masa Nifas 
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas di puskesmas dan rumah sakit atau melakukan kunjungan ke rumah paa hari ke-tiga, minggu ke dua dan minggu ke enam setelah persalinan, untuk membantu proses penatalaksanaan tali pusat yang benar, penemuan dini, penatalaksanaan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, asuhan bayi baru lahir , pemberian ASI , imunisasi dan KB. 

Tujuan nya adalah memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah persalinan dan memberikan penyuluhan ASI eksklusif. 

SEMBILAN STANDAR PENANGANAN KEGAWATAN OBSTETRI DAN NEONATAL 

STANDAR 16. Penanganan Perdarahan Dalam Kehamilan Pada Trimester Tiga 
Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala perdarahan pada kehamilan serta melakukan pertolongan pertama dan merujuknya. Tujuan dari dilakukannya standar ini adalah mengenali dan melakukan tindakan secara tepat dan cepat perdarahan pada trimester tiga. Hasil yang diharapkan dari kemampuan bidan dalam menerapkan standar ini adalah ibu yang mengalami perdarahan kehamilan trimester tiga dapat segera mendapatkan pertolongan, kematian ibu dan janin akibat perdarahan pada trimester tiga dapat berkurang , dan meningkatnya pemanfaatan bidan sebagai sarana konsultasi ibu hamil. 

STANDAR 17. Penanganan Kegawatdaruratan pada Eklamsia 
Bidan mengenali secara tepat dan gejala eklamsia mengancam, serta merujuk dan/atau memberikan pertolongan pertama. Tujuan dilaksanakan satandar ini adalah mengenali tanda gejala preeklamsia berat dan memberikan perawatan yang tepat dan memadai. Mengambil tindakan yang tepat dan segera dalam penanganan kegawat daruratan bila eklamsia terjadi. 

Hasil yang diharapkan yaitu penurunan kejadian eklamsia. Ibu hamil yang mengalami preeklamsia berat dan eklamsia mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Ibu dengan tanda-tanda preeklamsia ringan mendapatkan perawatan yang tepat. Penurunan kesakitan dan kematian akibat eklamsia. 

STANDAR 18. Penanganan Kegawatdaruratan Pada Partus Lama / macet 
Bidan mengenali secara tepat tanda gejala partus lama/macet serta melakukan penanganan yang memadai dan tepat waktu untuk merujuk untuk persalinan yang aman. Tujuan nya adalah untuk mengetahui segera dan penanganan yang tepat keadaan daruratpada partus lama/macet. 

Hasil yang diharapkan yaitu mengenali secara dini tanda gejala partus lama/macet serta tindakan yang tepat. Penggunaan patograf secara tepat dan seksama untuk semua ibu dalam proses persalinan. Penurunan kematian/kesakitan ibu dan bayi akibat partus lama/macet. 

STANDAR 19. Persalinan Dengan Menggunakan Vakum Ekstraktor 
Bidan hendaknya mengenali kapan waktu diperlukan menggunakan ekstraksi vakum, melakukan secara benar dalam memberikan pertolongan persalinan dengan memastikan keamanan bagi ibu dan janinnya. Tujuan penggunaan vakum yaitu untuk mempercepat persalinan dalam keadaan tertentu. Hasil yang diharapkan yaitu penurunan kesakitan atau kematian akibat persalinan lama. Ibu mendapatkan penanganan darurat obstetric yang cepat . 

STANDAR 20. Penanganan Kegawat daruratan Retensio Plasenta 
Bidan mampu mengenali retensio plasenta dan memberikan pertolongan pertama, termasuk plasenta manual dan penanganan perdarahan, sesuai dengan kebutuhan. Tujuan nya adalah mengenali dan melakukan tindakan yang tepat ketika terjadi retensio plasenta . 

Hasil yang diharapkan ialah penurunan kejadian retensio plasenta. Ibu dengan retesio plasenta mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Penyelamatan ibu dengan retensio plasenta meningkat. 

STANDAR 21. Penanganan Perdarahan Post Partum Primer 
Bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebihan dalam 24 jam pertama setelah persalinan dan segera melakukan pertolongan pertama kegawat daruratan untuk mengendalikan perdarahan. Tujuan nya adalah bidan mampu mengambil tindakan pertolongan kegawat daruratan yang tepat pada ibu yang mengambil perdarahan post partum primer/ atoni uteri. 
Hasil yang diharapkan yaitu penurunan kematian dan kesakitan ibu akibat perdarahan post partum primer. Meningkatkan pemanfaatan pelayanan bidan. Merujuk secara dini pada ibu yang mengalami perdarahan post partum primer. 

STANDAR 22. Penanganan Perdarahan Post Partum Sekunder 
Bidan mampu mengenali secara tepat dan dini gejala perdarahan post partum sekunder , dan melakukan pertolongan pertama untuk penyelamatan jiwa ibu , dan/atau merujuk.  Tujuan nya adalah mengenali gejala dan tanda perdarahan post partum sekunder serta melakukan penanganan yang tepat untuk menyelamatkan jiwa ibu. 
Hasil yang diharapkan yaitu kematian dan kesakitan akibat perdarahan post partum sekunder menurun. Ibu yang mempunyai resiko mengalami perdarahan post partum sekunder ditemuka secara dini dan segera di beri penanganan yang tepat. 

STANDAR 23. Penanganan Sepsis Puerperalis 
Bidan mampu menangani secara tepat tanda dan gejala sepsis puerperalis , melakukan perawatan dengan segera merujuknya. Tujuannya adalah mengenali tanda dan gejala sepsis puerperalis dan mengambil tindakan yang tepat . hasl yang diharapkan yaitu ibu dengan sepsis puerperalis mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat . penurunan angka kesakitan dan kematian akibat sepsis puerperalis. Meningkatnya pemanfaatan bidan dalam pelayanan nifas. 

STANDAR 24. Penanganan Asfiksia Neonaturum 
Bidan mengenali secara tapat bayi baru lahir dengan asfiksia, serta melakukan tindakan secepatnya, memulai resusitasi, mengusahakan bantuan medis,  merujuk bayi baru lahir dengan tepat dan memberiakan perawatan lanjutan yang tepat.

Tujuan yang diharapkan yaitu mengenal dengan tepat bayi baru lahir dengan asfiksia , mengambil tindakan yang tepat dan melakukan pertolongan kegawatdaruratan.